BAHASA BAGI ANAK USIA DINI
Mengembangkan bahasa dengan bernyanyi dan bermain
FITRI NOVIANTI
NIM. 1142100028
PRODI PGRA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Jl. A. H. Nasution 105 Bandung 40614
Email : sudrajatfitri22@yahoo.co.id
ABSTRAK
Anak usia dini merupakan rentang usia kritis dan sekaligus
strategis dalam proses pendidikan yang
dapat mempengaruhi proses
serta hasil pendidikan
pada tahap selanjutnya. Belajar
sangat penting diterapkan mulai sejak dini, mengingat pentingnya belajar
mulai sejak dini
tentunya perlu memperhatikan
proses pembelajarannya yang memerlukan pendekatan yang tepat dan
efektif. Dari hasil penelitian
bahwasanya anak lebih
termotivasi ketika diberi pembelajaran dengan menggunakan
metode bernyanyi dan bermain daripada
metode ceramah. Seperti menggunakan kartu huruf alphabet (abjad) sambil
bermain dan bernyanyi, ternyata anak lebih mudah dan cepat menghafal huruf abjad.
Metode bernyanyi dan bermain akan sangat berperan penting dalam
pengembangan bahasa anak apabila dalam pelaksanaan lebih ditekankan dan lebih
menstimulasi pada pengembangan bahasa anak, seperti pada saat bernyanyi anak
dikenalkan kata demi kata lebih dahulu sehingga anak mengerti apa kata yang
diucapkan anak tersebut. Melalui nyanyian yang sesuai, perbendaharaan bahasa,
kreativitas serta kemampuan anak berimajinasi dapat mengembangkan daya pikir
anak sehingga perkembangan inteligensinya dapat berlangsung dengan baik.
Bermain adalah hal penting bagi seorang
anak, permainan dapat memberikan kesempatan untuk melatih
keterampilannya secara berulang-ulang dan dapat mengembangkan ide-ide sesuai
dengan cara dan kemampuannya
sendiri. Kesempatan bermain sangat berguna dalam memahami tahap perkemba-ngan
anak yang kompleks.
ABSTRACT
Early childhood is a critical age
range and also strategic in the educational process that can affect the process
and outcome of education at a later stage . Learning is essential implemented
starting early , given the importance of learning start early certainly need to
consider learning process that requires the right approach and effective . From
the research that children are more motivated when given the learning by using
methods sing and play rather than a lecture. As for using the card alphabet
letters (alphabet) while playing and singing, the child turns more easily and
quickly memorize the letters of the alphabet.
Method will sing and play a very important role in the development of children's language when in the implementation of more and more emphasis on stimulating children's language development , such as when children are introduced singing word for word in advance so that the child understands what the child spoken word . Through appropriate chant, vocabulary, creativity and the ability to imagine the child can develop children's cognitive intelligence development can take place so well .
Playing is important for a child , the game can provide an opportunity to practice skills repetitively and can develop ideas and capabilities in accordance with its own way. The opportunity to play a very useful in understanding the child's development complex .
PENDAHULUAN
Dalam
dunia pendidikan anak, ada istilah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang banyak
dipakai para pendidik untuk memberikan pendidikan kepada anak usia dini. PAUD
adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak 0-8 tahun secara menyeluruh
mencakup semua semua aspek perkembangan anak diantaramya aspek fisik, kognitif,
social emosional, bahasa, agama, moral, kemandirian dan seni.
Kapasitas
kecerdasan anak dimulai sejak usia dini (0-5 tahun), pada usia 4 tahun
kecerdasan anak akan mencapai 50 persen. Kemudian pada usia 8 tahun kapasitas
kecerdasan anak akan terbangun hingga 80 persen, dan akan sampai pada angka 100
persen ketika pada usia 18 tahun. Untuk memaksimalkan kecerdasan anak,
pemberian pada anak usia dini sangatlah penting, perkembangan yang diperoleh
sangat mempengaruhi perkembangan anak pada tahap berikutnya serta meningkatkan
produktivitas kerja pada saat dewasa.
Pendidikan bagi
anak usia dini,
sejak lama telah
menjadi perhatian para orangtua, para ahli pendidikan, dan pemerintah.
Hal ini begitu bermakna dan menentukan
pendidikan pada masa usia
dini tersebut bagi
jenjang pendidikan dan
perkembangannya di masa
depan. Pada masa ini
pendidikan sesuai dengan
perkembangan anak berlangsung dalam
bentuk permainan. Karena itu melarang anak bermain sama dengan melarang anak
belajar. Bermain menurut Mulyadi
(2004).
Bagi anak bermain
adalah sarana untuk
mengubah kekuatan potensial
di dalam diri menjadi berbagai kemampuan dan
kecakapan. Bermain juga bisa menjadi sarana penyaluran kelebihan energi dan
relaksasi. Usia dini merupakan usia emas
bagi anak untuk belajar bahasa, tanpa mengabaikan perkembangan aspek-aspek
lainnya yang sangat penting dalam kehidupannya.
PEMBAHASAN
Perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling
kompleks dan mengagumkan. Kemampuan berbahasa anak tidak diperoleh secara tiba-tiba
atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan berbahasa mereka berjalan seiring
dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Perkembangan
bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan
yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana menuju tuturan yang
lebih kompleks.
Bahasa merupakan alat komunikasi bagi
setiap orang, termasuk anak-anak. Anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya
(social skill) melalui berbahasa. Keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial
dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Melalui bahasa, Anak dapat
mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa sehingga orang lain dapat
menangkap apa yang dipikirkan oleh anak dan menciptakan suatu hubungan sosial.
Jadi, tidaklah mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator
kesuksesan seorang anak. Anak yang dianggap banyak berbicara, kadang merupakan
cerminan anak yang cerdas. Sebelum mempelajari pengetahuan lain, anak perlu
menggunakan bahasa agar dapat memahami dengan baik. Anak akan dapat
mengembangkan kemampuannya dalam bidang pengucapan bunyi, menulis, membaca yang
sangat mendukung keberaksaraan di tingkat yang lebih tinggi.
Bahasa yang pertama dikenali anak adalah
bahasa ibu. Maka dari itu pemerolehan bahasa merupakan proses yang berlangsung
didalam otak seorang anak-anak ketika ia memperoleh bahasa pertamanya atau
bahasa ibunya. Ada dua proses yang terjadi ketika anak-anak sedang memperoleh
bahasa pertamanya, yaitu: proses kompetensi (penguasaan bahasa yang
berlangsung tanpa disadari) dan proses performasi (kemampuan melahirkan
kalimat-kalimat sendiri).
Tahapan Perkembangan Bahasa Anak Tahapan perkembangan bahasa anak
dapat dibagi atas:
1.
Tahap Pralingustik (0 – 12 bulan)
Sebelum mampu
mengucapkan suatu kata, bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari
satu tahun. Namun pada tahap ini, bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan anak
belumlah bermakna. Bunyi-bunyi itu berupa vokal atau konsonan tertentu tetapi
tidak mengacu pada kata atau makna tertentu. Untuk itulah sehingga perkembangan
bahasa anak pada masa ini disebut tahap pralinguistik (Tarigan, 1988; Tarigan
dkk., 1998; Ellies dkk.,1989). Bahkan pada awalnya, bayi hanya mampu
mengeluarkan suara yaitu tangisan. Pada
umumnya orang mengatakan bahwa bila bayi yang baru lahir menangis, menandakan
bahwa bayi tersebut merasa lapar, takut, atau bosan. Sebenarnya
tidak hanya itu saja terjadi. Para peneliti perkembangan mengatakan bahwa
lingkungan memberikan mereka halangan tentang apa yang dirasakan oleh bayi,
bahkan tangisan itu sudah mempunyai nilai komunikatif. Bayi yang berusia 4 – 7
bulan biasanya sudah mulai mengahasilkan banyak suara baru yang menyebabkan
masa ini disebut masa ekspansi (Dworetzky, 1990). Suara-suara baru itu
meliputi: bisikan, menggeram, dan memekik. Setelah memasuki usia 7 – 12 bulan,
ocehan bayi meningkat pesat dikenal dengan masa connical.
2.
Tahap Satu-Kata (12 – 18 bulan)
Pada masa ini,
anak sudah mulai belajar menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili
keseluruhan idenya. Satu-kata mewakili satu atau bahkan lebih frase atau
kalimat. Kata-kata pertama yang lazim diucapkan berhubungan dengan objek-objek nyata
atau perbuatan. Kata-kata yang sering diucapkan orang tua. Sewaktu mengajak
bayinya berbicara berpotensi lebih besar menjadi kata pertama yang diucapkan si
bayi. Memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah
mudah.Untuk menafsirkan maksud tuturan anak harus diperhatikan aktivitas anak
itu dan unsur-unsur non-linguistik lainnya seperti gerak isyarat, ekspresi,dan
benda yang ditunjuk si anak.Mengapa begitu? Menurut Tarigan dkk, (1998)ada dua
penyebab, yaitu sebagai berikut. Pertama, bahasa anak masih terbatas sehingga
belum memungkinkan mengekspresikan ide atau perasaannya secara lengkap.
Keterbatasan berbahasanya diganti dengan ekspresi muka, gerak tubuh, atau
unsur-unsur nonverbal lainnya. Kedua, apa yang diucapkan anak adalah sesuatu
yang paling menarik perhatiannya saja. Sehingga, tanpa mengerti konteks ucapan
anak, kita akan kesulitan untuk memahami maksud tuturannya. Walaupun memahami
makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah, tetapi komunikasi
aktif dengan si anak sangat penting dilakukan. Untuk dapat berbicara, anak
perlu mengetahui perbendaharaan kata yang akan disimpan di otaknya dan ini bisa
didapat ketika orang tua mengajak bicara. Selain itu, yang perlu diperhatikan
dalam menghadapi anak yang memasuki usia ini adalah “jangan memakai bahasa bayi
untuk anak-anak, melainkan dengan orang dewasa.” Maksudnya, ucapkanlah dengan
bahasa yang seharusnya di dengar sehingga si anak juga terpacu untuk
berkomunikasi dengan baik.
3.
Tahap dua-kata (18 – 24
bulan)
Pada masa ini,
kebanyakan anak sudah mulai mencapai tahap kombinasi dua kata. Kata-kata yang
diucapkan ketika masih tahap satu kata dikombinasikan dalam ucapan-ucapan
pendek tanpa kata penunjuk, kata depan, atau bentuk-bentuk lain yang seharusnya
digunakan. Pada tahap dua kata ini anak mulai mengenal berbagai makna kata
tetapi belum dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis
kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa. Selain itu, anak belum dapat
menggunkan pronomina saya, aku, kamu, dia, mereka. dan sebaginya.
4.
Tahap banyak-kata (3 – 5 tahun)
Pada saat anak
mencapai usia 3 tahun, anak semakin kaya dengan perbendaharaan kosakata. Mereka
sudah mulai mampu membuat kalimat pertanyaan, pernyataan negatif, kalimat
majemuk, dan berbagai bentuk kalimat. Terkait dengan itu, Tompkins dan
Hoskisson dalam Tarigan dkk. (1998) menyatakan bahwa pada usia 3 – 4 tahun,
tuturan anak mulai lebih panjang dan tatabahasanya lebih teratur. Dia tidak
lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga atau lebih. Pada umur 5 – 6 tahun,
bahasa anak telah menyerupai bahasa orang dewasa. Sebagian besar aturan
gramatika telah dikuasainya dan pola bahasa serta panjang tuturannya semakin
bervariasi. Anak telah mampu menggunakan bahasa dalam berbagai cara untuk
berbagai keperluan, termasuk bercanda atau menghibur. Seiring dengan
perkembangan bahasa, berkembang pula penguasaan anak-anak atas sistem bahasa
yang dipelajarinya. Sistem bahasa itu terdiri atas subsistem, yaitu: fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatic.
Perkembangan
Fonologis Sebelum masuk SD, anak telah menguasai sejumlah fonem (bunyi bahasa),
tetapi masih ada beberapa fonem yang masih sulit diucapkan dengan tepat. Menurut
Woolfolk (1990) sekitar 10% anak umur 8 tahun masih mempunyai masalah dengan
bunyi s, z, v. Hasil penelitian Budiasih dan Zuhdi (1997)
Perkembangan
Fonetik, Fonetik atau fonetika adalah bagian ilmu dalam linguistik yang
mempelajari bunyi yang diproduksi oleh manusia. Di sisi lain fonologi adalah
ilmu yang berdasarkan fonetik dan mempelajari sistem fonetika. berbeda dan
mentranskripsikannya dengan International Phonetic Alphabet mereka.
Perkembangan Sintaksis, Sintaksis
berkenaan dengan aturan bahasa yang meliputi keteraturan dan fungsi kata.
Perkembangan sintaksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai
dengan aturan yang menghasilkan pemikiran dan kelimat yang utuh. Anak
bereksperimen dengan sintaksis sejak 6 tahun pertama perkembangannya. Pada dua
tahun pertama, anak tidak melibatkan kata sandang, kata sifat, maupun kata
keterangan dalam mengkomunikasikan maksud maupun perasaannya. Dengan
bertambahnya usia anak, seiring dengan perkembangannya dalam berbahasa, anak
mulai melibatkan komponen fonologi maupun morfologi lebih banyak dalam
mengucapkan kalimat tiga atau empat kata. Selanjutnya, ketika anak mulai
menggunakan kalimat yang lebih panjang, anak juga menggunakan intonasi dalam
menanyakan suatu informasi, dengan memberikan penekanan pada kalimatnya,
seperti: “Ayam makan?”, “kakak sekolah? dan sebagainya. Kemampuan anak terus
berkembang ditandai dengan mulai tampaknya penggunaan kata tanya seperti
“siapa”, “apa”, “mengapa”, “kemana” dan “bagaimana” hingga anak menguasai
banyak hal tentang struktur sintaksis yang lebih kompleks pada usia menjelang 6
tahun. Bowler and Linke (1996) memberikan gambaran tentang kemampuan bahasa
anak usia 3-5 tahun. Menurut mereka pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak
kosakata dan kata tanya seperti apa dan siapa. Pada usia 4 tahun anak mulai
bercakap-cakap, memberi nama, alamat, usia, dan mulai memahami waktu.
Perkembangan bahasa anak semakin meningkat pada usia 5 tahun dimana anak sudah
dapat berbicara lancar dengan menggunakan berbagai kosa kata baru. Brown dan
Harlon (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990) berkesimpulan bahwa kalimat awal anak
adalah kalimat sederhana, aktif, afirmatif, dan berorientasi berita. Setelah
itu, anak baru menguasai kalimat tanya, dan ingkar. Berikutnya kalimat anak
mulai diwarnai dengan kalimat elips, baik pada kalimat berita, tanya, maupun
ingkar. Sedangkan menurut hasil pengamatan Brown dan Bellugi terhadap
percakapan anak, memberi kesimpulan bahwa ada tiga macam cara yang biasa
ditempuh dalam mengembangkan kalimat, yaitu: pengembangan, pengurangan, dan peniruan.
Perkembangan Semantik Selama periode usia sekolah dan dewasa, ada
dua jenis penambahan makna kata. Secara horisontal, anak semakin mampu memahami
dan dapat menggunakan suatu kata dengan nuansa makna yang agak berbeda secara
tepat. Penambahan vertikal berupa penambahan jumlah kata yang dapat dipahami
dan digunakan dengan tepat (Owens dalam Budiasih dan Zuchdi, 1997).
Bernyanyi merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari oleh
anak-anak. Hampir setiap anak sangat menikmati lagu-lagu atau nyanyian yang
didengarkan, lebih-lebih jika nyanyian tersebut dibawakan oleh anak-anak
seusianya dan diikuti dengan gerakan-gerakan tubuh yang sederhana.
Satibi (2006:11.13) mengungkapkan bahwa kegiatan bernyanyi bagi
anak usia taman Kanak-kanak tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan sehari-hari.
Baik anak yang berbakat ataupun tidak
mereka pada dasarnya senang bernyanyi. Bernyanyi adalah ekspresi perasaan
senang seseorang yang di ungkapkan melalui nada dan syair.
Melalui kegiatan bernyanyi suasana pembelajaran akan lebih
menyenangkan, menggairahkan, membuat anak bahagia, menghilangkan rasa sedih,
anak-anak merasa terhibur, dan lebih bersemangat. Dengan bernyanyi potensi
belahan otak kanan dapat dioptimalkan, sehinggga pesan-pesan yang kita berikan
akan lebih lama mengendap di memori anak (ingatan jangka panjang), dengan
demikian anak akan selalu ingat kata demi kata yang diterimanya.
Bernyanyi merupakan sarana pengungkapan pikiran dan perasaan, sebab
kegiatan bernyanyi penting bagi pendidikan anak–anak selain itu bernyanyi
adalah kegiatan menyenangkan yang memberi kepuasan kepada anak- anak (Kamtini
2005:113). Bernyanyi pada dasarnya merupakan bakat alamiah yang dimiliki oleh
seorang individu. Sejak lahir bayi telah mulai mengenal suara,ritme atau melodi
melalui lagu yang dilantunkan oleh ibunya. Di taman kanak-kanak bernyanyi
merupakan kegiatan yang dapat di integrasikan dalam pembelajaran (Masitoh, dkk
2007:11.8).
Kegiatan bernyanyi yang sesuai akan menambah secara berangsur
pemberdaharaan kata anak dan melenturkan anak dalam mengucapkan kata–kata.
Sehingga kegitan bernyanyi itu sangat berperan dalam bahasa anak. Hal ini
dikarenakan bahasa mempunyai beberapa komponen antara lain kosakata, pengucapan
dan pemaknaan. Memperoleh pemahaman yang bermakna, unsur-unsur musik itu
haruslah diberikan melalui kegiatan utamanya adalah bernyanyi. Guru dapat
memilih lagu-lagu yang sudah dikenal anak, atau lagu baru yang mudah untuk
diajarkan, lagu itu disebut sebagai lagu model dan digunakan sebagai sumber
pembahasan unsur-unsur nyanyian yang terkandung didalamnya.
Selain bernyanyi anak juga suka bermain sambil belajar. Dunia
bermain tidak pernah lepas dari anak. Bagi anak pbermain adalah suatu kegiatan
yang serius, tetapi mengasyikan. Melalui aktivitas bermain, berbagai
permainannya terwujud. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak,
karena menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadiah akan pujian. Bermaon
adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. Bermain
adalah medium, dimana si anak mencobakan diri, bukan saja dalam fantasinya
tetapi juga benar secara aktif.
Vigotsy (Tedja Saputra, 2007) menyatakan bahwa bermain mempunyai
peran langsung terhadap perkembangan anak. Selanjutnya, dijelaskan bahwa anak
kecil tidak mapu berpikit abstrak karena bagi mereka, meaning (makna)
dan objek berbaur menjadi satu akibatnya, anak tidak dapat berpikir.hal ini
berate dibutuhkan cara agar makna dan objek bisa menjadi satu kesatuan, sehingga
anak memahami satu objek, baik secara konkret mauoun abstrak. Menurut Moeslichatoen (dalam
Simatupang, 2005), bermain
merupakan suatu aktivitas
yang menyenangkan bagi semua
orang. Bermain akan memuaskan tuntutan perkembangan motorik, kognitif, bahasa,
sosial, nilai- nilai dan sikap hidup.
Bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa
pertimbangan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada unsur
paksaan atau takanan dari luar atau kewajiban. Piaget menjelaskan bahwa bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk
kesenangan fungsional. Menurut Bettelheim, kegiatan bermain adalah kegiatan
yang tidak memiliki peraturan kecuali yang ditetapkan pemain sendiri dan ada
hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar. (Hurlock, 1995; 320).
Para ahli psikologi berpendapat bahwa bermain
dapat membemari manfaat positif terhadap perkembangan diri pada anak antara
lain :
1. Mengembangakan kreativitas.
2. Mengembangkan keterampilan sosial.
3. Mengembangkan keterampilan psikomotorik.
4. Mengembangkan kemampuan berbahasa
5. Sebagai sarana terapi untuk mengatasi
masalah-masalah psikologis.
Seperti yang saya lakukan pada tutorial
mengembangkan kemampuan berbahasa anak di Jl.
Kosambi, Masjid Al-Hidayah, masjid Iqu dan pondok pesantren Al-Faqih, Manisi.
Dengan materi pokok mengenalkan dan menebak huruf-huruf melalui bermainan dan
bernyanyi menggunakan kartu huruf alphabet (abjad) dan buku AKTIVITAS BACA TULIS PERMULAAN jilid
dan jilid 2 1sebagai medianya.
Dengan menggunakan metode bernyanyi dan bermain sambil belajar
ternyata anak lebih mudah mengingat, menghafal huruf-huruf abjad. Nyayian yang
saya gunakan pada tutorial ini adalah nyanyian yang berjudul “COBALAH TEBAK”.
Metode permainnanya adalah menulis huruf dipunngung temannya, menulis huruf di
udara, menulis huruf di lantai, permaina dua kata tunggal.
Dari keempat permainan tersebut yang paling susah ketika menebak
huruf yang dituliskan di udara, karena menulis huruf diudara membutuhkan konsentrasi
yang lebih dan anak memang cukup sulit untuk menebaknya, tetapi setelah
dilakukan terus menerus anakpun dapat menebak huruf yang dituliskan diudara.
Permainan yang sangat disukai oleh anak adalah ketika bermain huruf yang
dituliskan dipunggung temannya.
Anak tersebut sangat senang meneyanyi dan menulis huruf tersebut
apalagi ketika dibuku tersebut
ada gambar yang harus diberi warna, dia sangat gembira dan sangat bersemangat
untuk mewarnai gambar tersebut.
KESIMPULAN
Bahasa merupakan alat komunikasi bagi
setiap orang, termasuk anak-anak. Anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya
(social skill) melalui berbahasa. Keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial
dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Melalui bahasa, Anak dapat
mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa sehingga orang lain dapat
menangkap apa yang dipikirkan oleh anak dan menciptakan suatu hubungan sosial.
Terlebih ketika mengembangakan bahasa melalui bernyanyi dan
bermain. Karena usia 2-6 tahun lebih suka dengan metode bernyanyi dan bermain
dibandingkan dengan metode ceramah, anakpun akan lebih mudah dan cepat hafal
dalam proses perkembangan bahasa
DAFTAR PUSTAKA
Adams, Ken. 2006. Semua anak jenius! aktifitas seru untuk
mengembangakan kecerdasan anak. Jakarta. Erlangga.
Abdurahman, Akhi. 2009. Cara Praktis Mengatasi Perkembangan Anak.
Bandung: PT BUKU KITA.
Dhieni,Nurbiana.2006. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Hidayat, Heri. 2015. Aktivitas Baca
Tulis Permulaan Jilid 1. Bandung: CV Cahaya Aksara Indonesia.
Hidayat, Heri. 2015. Aktivitas Baca
Tulis Permulaan Jilid 2. Bandung: CV Cahaya Aksara Indonesia
Hurlock, EB. 1993. Perkembangan Anak. Jilid I. Jakarta. Erlangga.
Mulyadi, Seto. 2004. Bermain dan
Kreativitas. Jakarta : Papas Sinar Sinanti.
Rifa, Iva. 2012. Koleksi Games Edukatif di
Dalam dan luar Sekolah. Jogjakarta: FlashBooks.
Semiawan, Conny 2008. Belajar Dan
Pembelajaran Prasekolah Dan Sekolah Dasar, Indonesia: PT Indeks.