Minggu, 08 November 2015

Mengembangkan bahasa dengan bernyanyi dan bermain Anak Usia Dini



BAHASA BAGI ANAK USIA DINI
Mengembangkan bahasa dengan bernyanyi dan bermain

FITRI NOVIANTI
NIM. 1142100028
PRODI PGRA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Jl. A. H. Nasution 105 Bandung 40614
Email : sudrajatfitri22@yahoo.co.id


ABSTRAK
Anak usia dini merupakan rentang usia kritis dan sekaligus strategis dalam proses  pendidikan  yang  dapat  mempengaruhi  proses  serta  hasil  pendidikan  pada tahap selanjutnya.  Belajar sangat penting diterapkan mulai sejak dini, mengingat pentingnya  belajar  mulai  sejak  dini  tentunya  perlu  memperhatikan  proses pembelajarannya yang memerlukan pendekatan yang tepat dan efektif. Dari  hasil  penelitian  bahwasanya  anak  lebih  termotivasi  ketika  diberi pembelajaran dengan  menggunakan  metode bernyanyi dan bermain daripada  metode ceramah. Seperti menggunakan kartu huruf alphabet (abjad) sambil bermain dan bernyanyi, ternyata anak lebih mudah dan cepat menghafal huruf abjad.
Metode bernyanyi dan bermain akan sangat berperan penting dalam pengembangan bahasa anak apabila dalam pelaksanaan lebih ditekankan dan lebih menstimulasi pada pengembangan bahasa anak, seperti pada saat bernyanyi anak dikenalkan kata demi kata lebih dahulu sehingga anak mengerti apa kata yang diucapkan anak tersebut. Melalui nyanyian yang sesuai, perbendaharaan bahasa, kreativitas serta kemampuan anak berimajinasi dapat mengembangkan daya pikir anak sehingga perkembangan inteligensinya dapat berlangsung dengan baik.
Bermain adalah hal penting bagi seorang anak, permainan dapat memberikan kesempatan untuk melatih keterampilannya secara berulang-ulang dan dapat mengembangkan ide-ide sesuai dengan cara dan kemampuannya      sendiri. Kesempatan bermain sangat berguna dalam memahami tahap perkemba-ngan anak yang kompleks.

ABSTRACT
               Early childhood is a critical age range and also strategic in the educational process that can affect the process and outcome of education at a later stage . Learning is essential implemented starting early , given the importance of learning start early certainly need to consider learning process that requires the right approach and effective . From the research that children are more motivated when given the learning by using methods sing and play rather than a lecture. As for using the card alphabet letters (alphabet) while playing and singing, the child turns more easily and quickly memorize the letters of the alphabet.
               Method will sing and play a very important role in the development of children's language when in the implementation of more and more emphasis on stimulating children's language development , such as when children are introduced singing word for word in advance so that the child understands what the child spoken word . Through appropriate chant, vocabulary, creativity and the ability to imagine the child can develop children's cognitive intelligence development can take place so well .
               Playing is important for a child , the game can provide an opportunity to practice skills repetitively and can develop ideas and capabilities in accordance with its own way. The opportunity to play a very useful in understanding the child's development complex .



PENDAHULUAN
            Dalam dunia pendidikan anak, ada istilah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang banyak dipakai para pendidik untuk memberikan pendidikan kepada anak usia dini. PAUD adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak 0-8 tahun secara menyeluruh mencakup semua semua aspek perkembangan anak diantaramya aspek fisik, kognitif, social emosional, bahasa, agama, moral, kemandirian dan seni.
            Kapasitas kecerdasan anak dimulai sejak usia dini (0-5 tahun), pada usia 4 tahun kecerdasan anak akan mencapai 50 persen. Kemudian pada usia 8 tahun kapasitas kecerdasan anak akan terbangun hingga 80 persen, dan akan sampai pada angka 100 persen ketika pada usia 18 tahun. Untuk memaksimalkan kecerdasan anak, pemberian pada anak usia dini sangatlah penting, perkembangan yang diperoleh sangat mempengaruhi perkembangan anak pada tahap berikutnya serta meningkatkan produktivitas kerja pada saat dewasa.
              Pendidikan  bagi  anak  usia  dini,  sejak  lama  telah  menjadi perhatian para orangtua, para ahli pendidikan, dan pemerintah. Hal ini begitu bermakna dan menentukan  pendidikan  pada  masa usia  dini  tersebut  bagi  jenjang  pendidikan  dan  perkembangannya  di  masa  depan.  Pada masa  ini  pendidikan  sesuai  dengan  perkembangan  anak berlangsung dalam bentuk permainan. Karena itu melarang anak bermain sama dengan melarang  anak  belajar. Bermain  menurut  Mulyadi  (2004).
Bagi  anak  bermain  adalah  sarana  untuk  mengubah  kekuatan  potensial  di  dalam  diri menjadi berbagai kemampuan dan kecakapan. Bermain juga bisa menjadi sarana penyaluran kelebihan energi dan relaksasi.  Usia dini merupakan usia emas bagi anak untuk belajar bahasa, tanpa mengabaikan perkembangan aspek-aspek lainnya yang sangat penting dalam kehidupannya.

PEMBAHASAN
Perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Kemampuan berbahasa anak tidak diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan berbahasa mereka berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks.
Bahasa merupakan alat komunikasi bagi setiap orang, termasuk anak-anak. Anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya (social skill) melalui berbahasa. Keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Melalui bahasa, Anak dapat mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa sehingga orang lain dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh anak dan menciptakan suatu hubungan sosial. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak. Anak yang dianggap banyak berbicara, kadang merupakan cerminan anak yang cerdas. Sebelum mempelajari pengetahuan lain, anak perlu menggunakan bahasa agar dapat memahami dengan baik. Anak akan dapat mengembangkan kemampuannya dalam bidang pengucapan bunyi, menulis, membaca yang sangat mendukung keberaksaraan di tingkat yang lebih tinggi.
Bahasa yang pertama dikenali anak adalah bahasa ibu. Maka dari itu pemerolehan bahasa merupakan proses yang berlangsung didalam otak seorang anak-anak ketika ia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Ada dua proses yang terjadi ketika anak-anak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu: proses kompetensi (penguasaan bahasa yang berlangsung tanpa disadari) dan proses performasi (kemampuan melahirkan kalimat-kalimat sendiri).
Tahapan Perkembangan Bahasa Anak Tahapan perkembangan bahasa anak dapat dibagi atas:
1.      Tahap Pralingustik (0 – 12 bulan)
Sebelum mampu mengucapkan suatu kata, bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun. Namun pada tahap ini, bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan anak belumlah bermakna. Bunyi-bunyi itu berupa vokal atau konsonan tertentu tetapi tidak mengacu pada kata atau makna tertentu. Untuk itulah sehingga perkembangan bahasa anak pada masa ini disebut tahap pralinguistik (Tarigan, 1988; Tarigan dkk., 1998; Ellies dkk.,1989). Bahkan pada awalnya, bayi hanya mampu mengeluarkan suara yaitu tangisan. Pada umumnya orang mengatakan bahwa bila bayi yang baru lahir menangis, menandakan bahwa bayi tersebut merasa lapar, takut, atau bosan. Sebenarnya tidak hanya itu saja terjadi. Para peneliti perkembangan mengatakan bahwa lingkungan memberikan mereka halangan tentang apa yang dirasakan oleh bayi, bahkan tangisan itu sudah mempunyai nilai komunikatif. Bayi yang berusia 4 – 7 bulan biasanya sudah mulai mengahasilkan banyak suara baru yang menyebabkan masa ini disebut masa ekspansi (Dworetzky, 1990). Suara-suara baru itu meliputi: bisikan, menggeram, dan memekik. Setelah memasuki usia 7 – 12 bulan, ocehan bayi meningkat pesat dikenal dengan masa connical.
2.      Tahap Satu-Kata (12 – 18 bulan)
Pada masa ini, anak sudah mulai belajar menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan idenya. Satu-kata mewakili satu atau bahkan lebih frase atau kalimat. Kata-kata pertama yang lazim diucapkan berhubungan dengan objek-objek nyata atau perbuatan. Kata-kata yang sering diucapkan orang tua. Sewaktu mengajak bayinya berbicara berpotensi lebih besar menjadi kata pertama yang diucapkan si bayi. Memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah.Untuk menafsirkan maksud tuturan anak harus diperhatikan aktivitas anak itu dan unsur-unsur non-linguistik lainnya seperti gerak isyarat, ekspresi,dan benda yang ditunjuk si anak.Mengapa begitu? Menurut Tarigan dkk, (1998)ada dua penyebab, yaitu sebagai berikut. Pertama, bahasa anak masih terbatas sehingga belum memungkinkan mengekspresikan ide atau perasaannya secara lengkap. Keterbatasan berbahasanya diganti dengan ekspresi muka, gerak tubuh, atau unsur-unsur nonverbal lainnya. Kedua, apa yang diucapkan anak adalah sesuatu yang paling menarik perhatiannya saja. Sehingga, tanpa mengerti konteks ucapan anak, kita akan kesulitan untuk memahami maksud tuturannya. Walaupun memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah, tetapi komunikasi aktif dengan si anak sangat penting dilakukan. Untuk dapat berbicara, anak perlu mengetahui perbendaharaan kata yang akan disimpan di otaknya dan ini bisa didapat ketika orang tua mengajak bicara. Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam menghadapi anak yang memasuki usia ini adalah “jangan memakai bahasa bayi untuk anak-anak, melainkan dengan orang dewasa.” Maksudnya, ucapkanlah dengan bahasa yang seharusnya di dengar sehingga si anak juga terpacu untuk berkomunikasi dengan baik.
3.       Tahap dua-kata (18 – 24 bulan)
Pada masa ini, kebanyakan anak sudah mulai mencapai tahap kombinasi dua kata. Kata-kata yang diucapkan ketika masih tahap satu kata dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan, atau bentuk-bentuk lain yang seharusnya digunakan. Pada tahap dua kata ini anak mulai mengenal berbagai makna kata tetapi belum dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa. Selain itu, anak belum dapat menggunkan pronomina saya, aku, kamu, dia, mereka. dan sebaginya.
4.      Tahap banyak-kata (3 – 5 tahun)
Pada saat anak mencapai usia 3 tahun, anak semakin kaya dengan perbendaharaan kosakata. Mereka sudah mulai mampu membuat kalimat pertanyaan, pernyataan negatif, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat. Terkait dengan itu, Tompkins dan Hoskisson dalam Tarigan dkk. (1998) menyatakan bahwa pada usia 3 – 4 tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan tatabahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga atau lebih. Pada umur 5 – 6 tahun, bahasa anak telah menyerupai bahasa orang dewasa. Sebagian besar aturan gramatika telah dikuasainya dan pola bahasa serta panjang tuturannya semakin bervariasi. Anak telah mampu menggunakan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan, termasuk bercanda atau menghibur. Seiring dengan perkembangan bahasa, berkembang pula penguasaan anak-anak atas sistem bahasa yang dipelajarinya. Sistem bahasa itu terdiri atas subsistem, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatic.
Perkembangan Fonologis Sebelum masuk SD, anak telah menguasai sejumlah fonem (bunyi bahasa), tetapi masih ada beberapa fonem yang masih sulit diucapkan dengan tepat. Menurut Woolfolk (1990) sekitar 10% anak umur 8 tahun masih mempunyai masalah dengan bunyi s, z, v. Hasil penelitian Budiasih dan Zuhdi (1997)
Perkembangan Fonetik, Fonetik atau fonetika adalah bagian ilmu dalam linguistik yang mempelajari bunyi yang diproduksi oleh manusia. Di sisi lain fonologi adalah ilmu yang berdasarkan fonetik dan mempelajari sistem fonetika. berbeda dan mentranskripsikannya dengan International Phonetic Alphabet mereka.
 Perkembangan Sintaksis, Sintaksis berkenaan dengan aturan bahasa yang meliputi keteraturan dan fungsi kata. Perkembangan sintaksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai dengan aturan yang menghasilkan pemikiran dan kelimat yang utuh. Anak bereksperimen dengan sintaksis sejak 6 tahun pertama perkembangannya. Pada dua tahun pertama, anak tidak melibatkan kata sandang, kata sifat, maupun kata keterangan dalam mengkomunikasikan maksud maupun perasaannya. Dengan bertambahnya usia anak, seiring dengan perkembangannya dalam berbahasa, anak mulai melibatkan komponen fonologi maupun morfologi lebih banyak dalam mengucapkan kalimat tiga atau empat kata. Selanjutnya, ketika anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang, anak juga menggunakan intonasi dalam menanyakan suatu informasi, dengan memberikan penekanan pada kalimatnya, seperti: “Ayam makan?”, “kakak sekolah? dan sebagainya. Kemampuan anak terus berkembang ditandai dengan mulai tampaknya penggunaan kata tanya seperti “siapa”, “apa”, “mengapa”, “kemana” dan “bagaimana” hingga anak menguasai banyak hal tentang struktur sintaksis yang lebih kompleks pada usia menjelang 6 tahun. Bowler and Linke (1996) memberikan gambaran tentang kemampuan bahasa anak usia 3-5 tahun. Menurut mereka pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak kosakata dan kata tanya seperti apa dan siapa. Pada usia 4 tahun anak mulai bercakap-cakap, memberi nama, alamat, usia, dan mulai memahami waktu. Perkembangan bahasa anak semakin meningkat pada usia 5 tahun dimana anak sudah dapat berbicara lancar dengan menggunakan berbagai kosa kata baru. Brown dan Harlon (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990) berkesimpulan bahwa kalimat awal anak adalah kalimat sederhana, aktif, afirmatif, dan berorientasi berita. Setelah itu, anak baru menguasai kalimat tanya, dan ingkar. Berikutnya kalimat anak mulai diwarnai dengan kalimat elips, baik pada kalimat berita, tanya, maupun ingkar. Sedangkan menurut hasil pengamatan Brown dan Bellugi terhadap percakapan anak, memberi kesimpulan bahwa ada tiga macam cara yang biasa ditempuh dalam mengembangkan kalimat, yaitu: pengembangan, pengurangan, dan peniruan.
Perkembangan Semantik Selama periode usia sekolah dan dewasa, ada dua jenis penambahan makna kata. Secara horisontal, anak semakin mampu memahami dan dapat menggunakan suatu kata dengan nuansa makna yang agak berbeda secara tepat. Penambahan vertikal berupa penambahan jumlah kata yang dapat dipahami dan digunakan dengan tepat (Owens dalam Budiasih dan Zuchdi, 1997).

Bernyanyi merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari oleh anak-anak. Hampir setiap anak sangat menikmati lagu-lagu atau nyanyian yang didengarkan, lebih-lebih jika nyanyian tersebut dibawakan oleh anak-anak seusianya dan diikuti dengan gerakan-gerakan tubuh yang sederhana.
Satibi (2006:11.13) mengungkapkan bahwa kegiatan bernyanyi bagi anak usia taman Kanak-kanak tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan sehari-hari. Baik anak yang berbakat ataupun tidak mereka pada dasarnya senang bernyanyi. Bernyanyi adalah ekspresi perasaan senang seseorang yang di ungkapkan melalui nada dan syair.
Melalui kegiatan bernyanyi suasana pembelajaran akan lebih menyenangkan, menggairahkan, membuat anak bahagia, menghilangkan rasa sedih, anak-anak merasa terhibur, dan lebih bersemangat. Dengan bernyanyi potensi belahan otak kanan dapat dioptimalkan, sehinggga pesan-pesan yang kita berikan akan lebih lama mengendap di memori anak (ingatan jangka panjang), dengan demikian anak akan selalu ingat kata demi kata yang diterimanya.
Bernyanyi merupakan sarana pengungkapan pikiran dan perasaan, sebab kegiatan bernyanyi penting bagi pendidikan anak–anak selain itu bernyanyi adalah kegiatan menyenangkan yang memberi kepuasan kepada anak- anak (Kamtini 2005:113). Bernyanyi pada dasarnya merupakan bakat alamiah yang dimiliki oleh seorang individu. Sejak lahir bayi telah mulai mengenal suara,ritme atau melodi melalui lagu yang dilantunkan oleh ibunya. Di taman kanak-kanak bernyanyi merupakan kegiatan yang dapat di integrasikan dalam pembelajaran (Masitoh, dkk 2007:11.8).
Kegiatan bernyanyi yang sesuai akan menambah secara berangsur pemberdaharaan kata anak dan melenturkan anak dalam mengucapkan kata–kata. Sehingga kegitan bernyanyi itu sangat berperan dalam bahasa anak. Hal ini dikarenakan bahasa mempunyai beberapa komponen antara lain kosakata, pengucapan dan pemaknaan. Memperoleh pemahaman yang bermakna, unsur-unsur musik itu haruslah diberikan melalui kegiatan utamanya adalah bernyanyi. Guru dapat memilih lagu-lagu yang sudah dikenal anak, atau lagu baru yang mudah untuk diajarkan, lagu itu disebut sebagai lagu model dan digunakan sebagai sumber pembahasan unsur-unsur nyanyian yang terkandung didalamnya.
Selain bernyanyi anak juga suka bermain sambil belajar. Dunia bermain tidak pernah lepas dari anak. Bagi anak pbermain adalah suatu kegiatan yang serius, tetapi mengasyikan. Melalui aktivitas bermain, berbagai permainannya terwujud. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak, karena menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadiah akan pujian. Bermaon adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. Bermain adalah medium, dimana si anak mencobakan diri, bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar secara aktif.
Vigotsy (Tedja Saputra, 2007) menyatakan bahwa bermain mempunyai peran langsung terhadap perkembangan anak. Selanjutnya, dijelaskan bahwa anak kecil tidak mapu berpikit abstrak karena bagi mereka, meaning (makna) dan objek berbaur menjadi satu akibatnya, anak tidak dapat berpikir.hal ini berate dibutuhkan cara agar makna dan objek bisa menjadi satu kesatuan, sehingga anak memahami satu objek, baik secara konkret mauoun abstrak. Menurut   Moeslichatoen   (dalam   Simatupang,   2005),   bermain  merupakan   suatu   aktivitas   yang   menyenangkan bagi semua orang. Bermain akan memuaskan tuntutan perkembangan motorik, kognitif, bahasa, sosial, nilai- nilai dan sikap hidup.
Bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk  kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa pertimbangan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan atau takanan dari luar atau kewajiban. Piaget menjelaskan bahwa bermain terdiri atas  tanggapan yang diulang sekedar untuk kesenangan fungsional. Menurut Bettelheim, kegiatan bermain adalah kegiatan yang tidak memiliki peraturan kecuali yang ditetapkan pemain sendiri dan ada hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar. (Hurlock, 1995; 320).
Para ahli psikologi berpendapat bahwa bermain dapat membemari manfaat  positif  terhadap perkembangan diri pada anak antara lain :
1.      Mengembangakan kreativitas.
2.      Mengembangkan keterampilan sosial.
3.      Mengembangkan keterampilan psikomotorik.
4.      Mengembangkan kemampuan berbahasa
5.      Sebagai sarana terapi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis.
Seperti yang saya lakukan pada tutorial mengembangkan kemampuan berbahasa anak di Jl. Kosambi, Masjid Al-Hidayah, masjid Iqu dan pondok pesantren Al-Faqih, Manisi. Dengan materi pokok mengenalkan dan menebak huruf-huruf melalui bermainan dan bernyanyi menggunakan kartu huruf alphabet (abjad)  dan buku AKTIVITAS BACA TULIS PERMULAAN jilid dan jilid 2 1sebagai medianya.
Dengan menggunakan metode bernyanyi dan bermain sambil belajar ternyata anak lebih mudah mengingat, menghafal huruf-huruf abjad. Nyayian yang saya gunakan pada tutorial ini adalah nyanyian yang berjudul “COBALAH TEBAK”. Metode permainnanya adalah menulis huruf dipunngung temannya, menulis huruf di udara, menulis huruf di lantai, permaina dua kata tunggal.
Dari keempat permainan tersebut yang paling susah ketika menebak huruf yang dituliskan di udara, karena menulis huruf diudara membutuhkan konsentrasi yang lebih dan anak memang cukup sulit untuk menebaknya, tetapi setelah dilakukan terus menerus anakpun dapat menebak huruf yang dituliskan diudara. Permainan yang sangat disukai oleh anak adalah ketika bermain huruf yang dituliskan dipunggung temannya.
Anak tersebut sangat senang meneyanyi dan menulis huruf tersebut apalagi ketika dibuku             tersebut ada gambar yang harus diberi warna, dia sangat gembira dan sangat bersemangat untuk mewarnai gambar tersebut.



KESIMPULAN
Bahasa merupakan alat komunikasi bagi setiap orang, termasuk anak-anak. Anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya (social skill) melalui berbahasa. Keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Melalui bahasa, Anak dapat mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa sehingga orang lain dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh anak dan menciptakan suatu hubungan sosial.
Terlebih ketika mengembangakan bahasa melalui bernyanyi dan bermain. Karena usia 2-6 tahun lebih suka dengan metode bernyanyi dan bermain dibandingkan dengan metode ceramah, anakpun akan lebih mudah dan cepat hafal dalam proses perkembangan bahasa





















DAFTAR PUSTAKA
Adams, Ken. 2006. Semua anak jenius! aktifitas seru untuk mengembangakan kecerdasan anak. Jakarta. Erlangga.
Abdurahman, Akhi. 2009. Cara Praktis Mengatasi Perkembangan Anak. Bandung: PT BUKU KITA.
Dhieni,Nurbiana.2006. Metode Pengembangan BahasaJakarta: Universitas Terbuka.
Hidayat, Heri. 2015. Aktivitas Baca Tulis Permulaan Jilid 1. Bandung: CV Cahaya Aksara Indonesia.
Hidayat, Heri. 2015. Aktivitas Baca Tulis Permulaan Jilid 2. Bandung: CV Cahaya Aksara Indonesia
Hurlock, EB. 1993. Perkembangan Anak. Jilid I. Jakarta. Erlangga.
Mulyadi, Seto. 2004. Bermain dan Kreativitas. Jakarta : Papas Sinar Sinanti.
Rifa, Iva. 2012. Koleksi Games Edukatif di Dalam dan luar Sekolah. Jogjakarta: FlashBooks.
Semiawan, Conny 2008. Belajar Dan Pembelajaran Prasekolah Dan Sekolah Dasar, Indonesia: PT Indeks.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar